Sabtu, 20 Desember 2014

Google Gift Card INDOMOG

 Goggle Gift Card adalah voucher redeem yang di keluarkan oleh Google dengan tujuan untuk memudahkan pengguna android yang tidak memiliki kartu kredit untuk membeli aplikasi Android yang berbayar.


Voucher ini terdiri dari 3 nominal saldo, $10, $25 & $50 sesuai kebutuhan para penggunanya. Bukan hanya membeli berbayar, Google gift card juga dapat membeli item di dalam game yang kalian butuhkan dalam games yang sedang kalian mainkan seperti gems di Clash of clans.
Denominasi Google Gift Card

Google Gift Card merupakan produk dari Google, akan tetapi kalian bisa mendapatkannya dengan mudah melaui www.indomog.com. INDOMOG merupakan perusahaan online payment solution yang membantu memberikan kemudahan untuk membeli semua yang berbau kebutuhan voucher game dan pembayaran konten online.

Untuk membelinya kamu bisa langsung masuk ke website www.indomog.com atau masuk ke link ini goo.gl/g3HEVK. Metode pembayaran yang di sediakan pun sangat lengkap, mulai dari transfer atm dampai menggunakan e-wallet INDOMOG itu sendiri.


Denominasi GGC INDOMOG
Sesudah  membeli voucher Google kalian bisa langsung me redeem atau menukarkannya ke dalam Play Store, akan tetapi ikuti dulu langkah2 berikut:

1. Aktifkan google wallet dan pilih dengan menggunakan region US dan masukan salah satu kode area disana dan pilih "payment methods"

2. Setelah itu masuk ke menu Play Store, klik option dan klik "redeem"

3. Masukkan kode voucher dan kemudian klik "redeem"

4. Saldo anda akan bertambah dan sudah bisa di gunakan untuk membeli apliasi dan item dalam game "berbayar"
Contoh Aplikasi berbayar




Selasa, 08 Januari 2013

Membandingkan Pengelolaan Taman Nasional dari Negeri Seberang


Indonesia tampaknya perlu mencontoh negeri tetangganya Malaysia dalam mengelola sebuah taman nasional. Gunung Kinabalu, gunung dengan ketinggian 4093 mdpl (cartenz pyramid 4884 mdpl) adalah sebuah tantangan tersendiri jika melihat tolak ukurnya adalah ketinggian. Tapi ternyata mendaki gunung kinabalu lebih dapat dikatakan gampang-gampang susah jika dibandingkan dengan gunung-gunung di Indonesia. Mudah dalam hal teknis pendakiannya, dan susah dalam hal mengurus perizinannya.
 














Tanpa bermaksud mengecilkan arti sebuah gunung saya akan menjelaskan mengenai teknis pendakiannya.
“di sini seorang pendaki tidak perlu memikirkan urusan logistik, tidak perlu membawa tenda atau sleeping bag, tidak bingung memutar-mutar kompas mencari rute pendakian, dan tidak perlu mengkhawatirkan perut yang kelaparan. kenapa? Karena di kinabalu justru pendaki dilarang untuk membawa tenda,kompor dan logistic. Pendaki hanya diizinkan membawa jaket dan pakaian serta makanan kecil.” Bisa dibayangkan kan berapa sampah dan kerusakan alam yang bisa direduksi dengan aturan seperti ini.

Pendakian dimulai dari ketinggian 1.866 mdpl dengan waktu tempuh normal selama 2 hari dan jarak 8,5 km. setiap pendaki wajib memakai tag (tanda pengenal) selama perjalanan dan wajib didampingi oleh guide. Ada banyak pos/pondok yang akan dilewati sepanjang perjalanan dan hampir semua pondok menyediakan penampungan air yang dapat diminum serta WC. Semua pendaki diarahkan untuk menginap di Laban Rata (3272 m dpl) karena tidak diperbolehkan mendirikan tenda di sepanjang perjalanan. Di laban rata sendiri sudah tersedia kamar-kamar yang disewakan lengkap dengan toilet duduknya serta restoran untuk memenuhi kebutuhan logistic para pendaki. Jangan harap bisa melakukan pendakian malam hari karena setiap pendaki dicek secara ketat tanda pengenalnya di setiap pos (di atas dan di bawah) dan harus selalu didampingi guide (disini gak bakal ada cerita orang nyasar di gunung)

ada dua jalur pendakian menuju Low's Peak (puncak kinabalu), melalui rute normal (Trail Timpohon) dan melalui rute panjat tebing (Mesilau). walaupun sekilas terlihat berbeda akan tetapi pihak taman nasional menggaransi bahwa kedua rute ini sama-sama mudahnya dan sama-sama amannya, walaupun dari segi harga jelas berbeda . rute panjat tebing diciptakan untuk pendaki yang ingin merasakan mendaki tebing menuju puncak walaupun dia sama sekali tidak punya skill mendaki. Oleh karena itulah dibuat jalur "via ferrata" sama seperti yang ada di Pegunungan Alpen. Pendaki tinggal menaiki tangga-tangga besi yang sudah disiapkan dan menggunakan dua buah pengaman sekaligus harus didampingi oleh masing-masing satu orang pemandu. dan pemandu-pemandu ini adalah khusus dan berpengalaman. diibaratkan anak kecil pun dapat melalui rute ini.


















gambar : via ferrata

Satu-satunya yang membikin susah pendakian ini adalah,  Malaysia menerapkan kuota yang terbatas untuk setiap harinya. Kuota ini dibatasi dengan cara tidak memperbolehkan camping di gunung ini. Satu-satunya cara untuk mendaki di gunung Kinabalu adalah dengan memesan kamar di satu-satunya penginapan di atas, Laban Rata (komplek penginapan dengan bangunan penginapan dalam satu manajemen).

sumber : hasil googling dari berbagai sumber dan cerita pengalaman teman.

Nah..bagaimana jika sistem ini diterapkan di taman nasional di Indonesia?? emang sih akan mengurangi seni petualangannya, tapi cara ini lebih dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan seperti yang sudah disebutkan di atas.Lalu apa bedanya mendaki gunung dengan cara seperti ini dan paket tour wisata?? -salam kenal.


Senin, 19 September 2011

Gunung Burangrang


Ketinggian : 2050 mdpl
Lokasi : Bandung
Lama pendakian : 3-4 jam



Cara menuju burangrang dari Jakarta
1) Dari jakarta (lebak bulus) naik bus jurusan Bandung/Tasik/Garut dan turun di jembatan Cimareme (setelah gerbang tol padalarang.) ongkos : Rp 26.000,00
2) Turun ke bawah (jalan raya cimareme), naik salah satu angkot yang ke arah kiri
• Angkot ijo-orange (padalarang-cimahi-st.hall/lw panjang)
• Angkot ijo-kuning-item (cililin-batu jajar-cimahi)
• Angkot orange (padalarang-cimahi) Turun di perempatan citeureup-kolonel masturi ;
ongkos Rp 2.000,00
3) Ganti angkot kuning jurusan Cimahi (atas)-cisarua-parongpong,
Via jalur legok haji : turun di SPN
Via jalur komando : turun di pertigaan komando ;
ongkos Rp 4.000,00
4) Dari pertigaan komando jalan kaki masuk ke dalam atau naik ojek. jalan kaki sekitar 30 menit dari gerbang yang bertuliskan “KOMANDO”,

Jumat, 22 April 2011

Suaka Margasatwa Muara Angke

Tidak banyak orang yang tahu bahwa ternyata di utara kota jakarta terdapat Suaka Margasatwa yang terletak di Muara Angke. Suaka Margasatwa Muara Angke adalah sebuah kawasan konservasi di wilayah hutan bakau (mangrove) di pesisir utara Jakarta. Suaka Margasatwa ini ternyata memegang peranan penting dalam pelestarian lingkungan. SMMA merupakan tempat tinggal aneka jenis burung dan berbagai satwa lain yang telah sulit ditemukan di wilayah Jakarta lainnya. Jakarta Green Monster mencatat seluruhnya ada 91 jenis burung, yakni 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan, yang hidup di wilayah ini. Sekitar 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi . Di samping jenis-jenis burung, di SMMA juga masih dijumpai kelompok-kelompok liar monyet kra atau juga biasa disebut monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Selain itu SMMA juga menjadi tempat hidup berbagai spesies reptilia seperti biawak air [wikipedia].

Kamis, 21 April 2011

Kelak, nak, kau musti jelajahi seisi negeri.

Di Aceh kau bisa menikmati tari seudati dan berteguk-teguk kopi. lalu pada sepanjang Bukit Barisan, banyak kau jumpai ngarai dan danau. Dan pantainya nak, ada satu yang tak pernah ayah lupa, adalah Tanjung Tinggi di pulau Belitung yang indahnya serupa lukisan.

Jika sampai ke tanah Jawa, singgahlah dulu ke pantai Bayah yang dipenuhi batu-batu alam nan elok. O ya nak, tak jauh dari situ, bisa pula kau jumpai saudara-saudara kita suku Baduy yang masih erat menjaga tradisi kakek moyang kita yang mulia.

Engkau telah berdiri di tatar Pasundan, nak. Bukalah mata, telinga dan hatimu, untuk menikmati bunyi angklung, degung, dan lekuk-liku suara penyanyinya yang memabukkan. Terus berjalan ke timur nak, maka akan kau jumpai borobudur, prambanan, suara gamelan dan sejumlah tari-tarian yang penuh kelembutan.

O ya, nak. Jangan lupa, mampirlah sebentar ke Kecamatan Sukolilo, di sana ada saudara-sadara kita warga Sedulur Sikep yang lebih dikenal sebagai “orang Samin”, mereka itulah nak yang pernah membuat malu hati ayah, lantaran mereka yang oleh negara “didakwa” tak punya agama, nyatanya lebih agamis dalam menjalani kehidupannya.

Rabu, 20 April 2011

Pernah bermimpi tentang sesuatu??


Pernah bermimpi tentang sesuatu??

Pernah bermimpi tentang suatu tempat yang ingin kamu datangi?? Dulu ketika masih sekolah saya pernah bermimpi ingin ke Ranukumbolo. Tidak ada tempat yang ingin saya datangi selain Ranukumbolo. Setahun mimpi itu lewat tidak terwujud. Dua tahun mimpi itu hanya mampir menjadi impian. Tiga tahun mimpi itu cuma hadir di dalam tidur. Tahun keempat saya bulatkan tekad untuk benar-benar ke sana, “Suatu saat saya pasti ke Ranukumbolo!!”, dan tujuh belas agustus tahun kemarin akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya saya berhasil ke Ranukumbolo. “Jadi begini rupanya tempat yang selalu jadi mimpi saya ini”, dan kesempatan menginjakan kaki di tanah tertinggi pulau jawa menjadi hadiah yang tak terlupakan.

Dan tahun ini, mimpi saya menjadi lebih besar dari mimpi-mimpi sebelumnya. Saya ingin merasakan menginjakan kaki di puncak Rinjani, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Gak peduli bagaimana sulitnya mewujudkan mimpi saya itu. Saya mulai menyusun litenary dan budget ke sana, mulai mempelajari catatan perjalanan orang-orang yang pernah ke sana, mulai mengumpulkan teman dan menabung jauh-jauh hari sebelumnya.

“Lo tau ndi., kalo gue udah taruh suatu tempat di pikiran gue, gue pasti bakal ke sana.”

“Selama mimpi itu gratis, bermimpi saja yang banyak”

Saya sadar mimpi itu kadang sempat meredup dan hampir hilang, kadang-kadang saya capai untuk terus bermimpi. Tapi sahabat yang baik adalah yang selalu mengingatkan mimpi temannya ke puncak Rinjani.


Selasa, 19 April 2011

Perjalanan menuju Desa Baduy


 “ we entered as a stranger, we came out as a brother..”

Seperti hal-nya malam-malam sebelumnya, selalu susah memejamkan mata ketika paginya harus bangun dan melakukan perjalanan. Malam itu saya habiskan dengan ngobrol dengan teman chating saya, dan baru packing jam dua pagi. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk tidur dan berangkat. “ayo... semangat nanti pagi bertemu teman-teman baru.” seseorang teman menyemangati saya.

Jum’at, pukul 05.30 WIB
Saya sudah terbangun, sholat subuh, mandi lalu kemudian menuju stasiun. Tujuan saya adalah stasiun Tanah Abang, dan kereta ekonomi AC yang menuju Tanah Abang berangkat pukul enam kurang sepuluh menit. Saya berangkat bersama dengan orang-orang kerja, beruntung kereta ke Tanah Abang tidak begitu penuh, mungkin karena masih terlalu pagi. Mmm... seandainya saja teman saya itu jadi ikut, setidaknya saya ada teman ngobrol sepanjang perjalanan ini. Tepat pukul tujuh kereta tiba di stasiun Tanah Abang, masih lama dari waktu ketemuan. Saya pun menuju ruang tunggu di dekat loket, dan mendengarkan musik dari MP3 saya.

Rabu, 02 Februari 2011

Kemping Ceria di Pulau Perak.



Ajakan trip ke sebuah pulau di ujung utara Kepulauan Seribu dari seorang teman sepertinya menarik. Apalagi belum begitu banyak catatan perjalanan ke pulau ini di internet, dan memang jarang orang yang mengenal Pulau ini sebagai tujuan wisata di Kepulauan Seribu.
 “Ayolaah..mumpung belum banyak orang yang kesana, dan belum begitu terkenal seperti tidung dan pramuka, saya berbaik hati rela kesana untuk kedua kalinya demi kalian” kata-kata itulah yang dipakai teman saya ini untuk membujuk saya, apalagi ditambah dengan rincian budget dan kegiatan yang saya lihat sebelumnya yang telah dibuat teman saya, cukup menarik dan tidak terlalu mahal.
Sehari sebelum keberangkatan kami pun mempersiapkan peralatan yang akan dipakai untuk kemping: tenda, flysheet,nesting, kompor, selebihnya adalah peralatan-peralatan pribadi dan logistik untuk 2 hari 1 malam.

Sempu Sebagai Cagar Alam



Sebenarnya ada keraguan ketika akan ke Pulau Sempu, dikarenakan himbauan dari teman saya tentang harusnya memakai Surat Ijin Memasuki Cagar Alam (SIMAKSI) yang bisa dibuat di kota Surabaya atau Banyuwangi.

“Ingat mas bro.., pecinta alam yang baik taat pada peraturan.” kata teman saya itu.
“ Kalo saya bisa mengurus dari Jakarta tanpa harus ke kota Surabaya atau Banyuwangi saya mau aja ngurusnya mas bro..” tapi persyaratan mengenai SIMAKSI yang hanya akan dikeluarkan untuk tujuan penelitian dan harus ada cap resmi dari organisasi Pecinta Alam tempat bernaung membuat saya melupakan jauh-jauh surat itu, saya bukan berasal dari organisasi pecinta alam manapun. Seberapa pentingnya sih surat SIMAKSI ini untuk kita dapat di izinkan masuk ke Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu?? Saya mencoba mencari info di internet, bertanya kepada teman-teman yang pernah ke sana dan chating dengan teman-teman backpacker yang juga pernah ke sana. Rata-rata mereka tidak memakai SIMAKSI, cukup membayar kepada petugas kehutanannya.

Kamis, 27 Januari 2011

Pulau Sempu (part.2)


Pagi-pagi saya terbangun oleh suara di luar tenda, ternyata cewe-cewe sudah bangun dan lagi merapihkan carrier. Sorry kalo saya setengah sadar sempat hampir mengira suara-suara di luar itu adalah babi hutan.hahahaaa... saya keluar dan mulai memasak air untuk buat minuman dan membuat indomie, perut harus ke isi sebelum mulai jalan lagi. Pagi ini gantian saya sendirian yang mencari jalan. Setelah memakai sepatu PDL  andalan, saya pun menerobos rubuhan pohon tumbang, benar kata teman saya semalam memang enggak ada tanda-tanda bekas jalur, agak ke kanan saya juga menemukan botol aqua yang tadi malam dilihat teman saya. Seperti ada jalan setapak tapi lagi-lagi hilang. Saya coba berteriak memanggil teman-teman saya dan mereka menjawab, bagus berarti saya belum terlalu jauh berjalan. Saya coba jalan agak jauh ke depan sampai menemukan pohon tumbang besar selanjutnya, dan tetep tidak ada tanda bekas dilalui. Saya pun balik lagi ke tempat botol Aqua tadi, coba menerobos ke arah kiri ke rimbunan pohon tumbang lainnya dan BINGO..!! saya menemukan jalannya :D. Ternyata bukan terus lurus seperti kata teman saya, tapi berbelok ke kiri dan tempat kami mendirikan tenda tepat di belakang jalur. Tapi kok tadi malam gak keliatan ya??hahahaaa...... Saya pun langsung kembali ke tenda. Kata teman saya yaa.. mungkin kita disuruh istirahat dulu di sini gak maksain terus jalan. Kami pun bergegas packing dan melanjutkan perjalanan.


Dari tempat kami camp tadi ternyata sudah dekat dari pohon tumbang besar yang katanya menandakan bahwa sudah setengah perjalanan. Dari belakang mulai terdengar suara orang, tampaknya ada rombongan lain yang jalan. Dan dugaan kami benar di belakang memang suara orang dan jumlahnya 57 orang satu rombongan! Sepertinya mereka menyeberang tadi pagi. Jalur menjadi antri, kami lebih memilih beristirahat dulu membiarkan mereka lewat semua. Percuma juga buru-buru sampai ke Segara Anakan kalo nanti di sana kaya pasar. Beruntung mereka tidak menginap cuma singgah sebentar. Sepertinya mereka dari rombongan karang taruna yang sedang bertamasya, dari mulai anak kecil sampai orang tua ada. Dan mereka heran melihat kami membawa tas gunung dan berjalan lambat, jelas aja di tas saya aja ada tiga botol aqua besar ditambah dirigen air 5 liter. Dengan pertimbangan jangan sampai kekurangan air. "Safety first, comfort second".

Pulau Sempu (part.1)


Jakarta - Jum’at, 14 Januari 2011
“Sorry., gue gak bisa ikut, gue harus ikut yusidium di kampus.”
“Gue juga gak bisa ikut, kalo gak ada temen cewe-nya. Lagipula gue belum ada duit....”
“ Ndi.., sorry gue gak bisa ikut besok, tiba-tiba aja senin-nya gue harus ada di kampus buat ngurus skripsi gue...”
Nada dering panggilan handphone...,
“Ndi.., maap gue gak bisa ikut. Tiba-tiba aja gue demam, udah dua hari ini.....bla..bla..bla..”
“Coy..sorry kayanya gue gak jadi ikut, tiba-tiba aja ada tamu kantor dan gue harus nemenin. Lagian cuaca di Malang juga lagi buruk bla..bla..bla..”
................................
Saya juga sempat menghawatirkan cuaca di Malang yang buruk dua hari belakangan ini. Tapi kata teman saya yang sempat menghubungi nelayan di Sempu, bahwa Pulau Sempu tetap dibuka dan juga sms teman saya di Surabaya yang isinya “Apapun yang terjadi, kita tetap meluncur ke Sempu” membuat saya kembali semangat. Kereta tidak akan pernah batal berangkat gara-gara menunggu penumpang bukan?? :Dari 7 orang yang akan ikut, 5 orang membatalkan diri dengan berbagai alasan. Tinggal saya berdua saja dengan teman dari Padang (kalo yang ini gue tau banget orangnya, dia tipe orang impulsif, dan gak mungkin pula dia membatalkan keberangkatan karena sudah pesen tiket  jauh2 hari Padang-Jakarta.) Yaa..setidaknya masih ada temen-temen dari Malang dan Surabaya, bukan cuma kita berdua.

Pukul 11.00 WIB saya berangkat sendiri dari kostn dengan membawa ransel gunung pinjaman temen. Kami janjian bertemu di stasiun Jatinegara. Tiba di stasiun Jatinegara dia masih belum dateng. Akhirnya sambil menunggu dia datang, saya duduk lesehan dekat loket penjual karcis. Diseberang loket terlihat seorang pemuda sedang antri membeli tiket sambil membawa ransel gunung sama seperti saya. Pemuda itu lalu menghampiri saya sekedar menyapa dan berjabat tangan.
“ Mau kemana mas?? ”
“ Ke Malang mas, mas sendiri mau kemana? “
“ Ooh..Saya mau ke Merbabu mas.., udah dulu ya mas kereta saya bentar lagi tiba”
Dia pun langsung masuk ke dalam peron. Saya merasakan kehangatan ramah tamah anak gunung, walaupun tidak saling kenal tapi mencoba untuk menyapa. Persis ketika kita bertemu pendaki lain ketika sedang naik. Tidak lama kemudian teman saya pun datang.

Matarmaja - Sabtu, 15 Januari 2011
“ Udah sampai mana mas?? “ bunyi sms pagi itu dari teman saya di Malang.
“ Udah di Stasiun Kota Lama Malang, bentar lagi juga sampai tapi aku mau bersih-bersih badan dulu.”
“ Okey.., bentar lagi aku ke stasiun, lagi nunggu temen dulu”
Setelah bersih-bersih dan sarapan pagi di stasiun kota baru Malang, akhirnya dateng juga teman-teman saya anak Malang. Bertiga, dua cewe dan satu cowo.
“ Lho.. kok cuma bertiga?? “
“ Lah..mas sendiri kok cuma berdua, katanya bertiga”
“ Iya.. terakhir temanku dari Bali batalin keberangkatan juga, tenang.. masih ada temenku dari Surabaya ”
Tidak lama kemudian dateng juga teman-teman dari Surabaya, cuma berdua juga.hahaaa... Setidaknya sekarang kami bertujuh dari rencana lima belas orang, masih ada setengahnya.
Pertama kali bertemu, (kecuali saya yang kenal sama semuanya) jarang ada yang berbicara, semua saling diam. Saya memakluminya karena baru pertama kali kenal, pertama kali trip dengan orang yang baru dikenal adalah hari pertamanya pasti lebih banyak diam. Dan sepanjang perjalanan kami pun lebih banyak diam.

tiba di Sendang Biru

Minggu, 02 Januari 2011

Kenapa Harus Melumpuhkan Kaki..??


"Kami bayar mahal untuk sampai Indonesia, kami tidak ingin melewatkan sejengkal pun keindahan yang ada, maka kami berjalan kaki menyusuri jalanan".
"Kami dari pusat kota, lalu menuju puncak tertinggi dan kembali lagi ke kota lalu pulang dengan jalan kaki".
"Ini negeri indah, eksotis, masyarakat ramah dan kami tidak ingin melewatkan momment demi momment, sehingga membuat kenapa kami berjalan kaki".
"Lelah, sakit dan tidak enak, tetapi terbayar sudah dengan apa yang kami dapat dan tidak ada di negera kami".

Senin, 22 November 2010

Visit Indonesia

Pertanyaan menggelitik dari temen saya, ketika saya menanyakan mengapa dia senang banget untuk backpacker ke luar negeri daripada di negeri sendiri. Saya bilang gini :
gue           : "ntar malu loh di tanya sama turis asing masa negeri sendiri tidak tau".
teman gue : "tau".
......................
teman gue : "So, if you're a foreigner.. What will you ask to me as Indonesia citizen?"
gue           : " tell me about your country, about karimun jawa, bromo, raja ampat, bunaken. i heared your country is beautifull"
temen gue : "Its so easy sir"
                  " If you want to know more, please visit our country! Because words can not describe it, Its not enough.. Pls coming! And you know it all..

.........

Kamis, 11 November 2010

info perjalanan dan pendakian Semeru



Info perjalanan ke semeru : 
  •  Kereta api ekonomi Mataramaja  Rp 51.000,(Lama perjalanan 20 jam, tiba di stasiun malang sekitar pukul 10.00 WIB)
  • Dari stasiun malang naik angkot jurusan terminal Arjosari Malang (keluar stasiun ke arah kanan) ongkos Rp 2.500,-
  • Dilanjutkan naik angkot warna putih jurusan Tumpang, ongkos  Rp 5000,-
  • Turun di Pasar tumpang depan alfamart, bilang saja turun di tempat carter jeep yang ke bromo-semeru.

Senin, 01 November 2010

catatan pendakian mahameru



Kalimati, Senin 16 Agustus 2010 pukul 22.00 WIB

Saya terbangun oleh suara para pendaki yang akan bersiap-siap ke puncak, tampaknya malam ini sebagian pendaki sudah terbangun dari tidurnya. Malam itu udara terasa sangat dingin, padahal saya sudah memakai baju lapis dua, sweter, jaket dan berada di dalam sleeping bag saya lengkap dengan sarung tangan dan kaos kakinya, tapi udara dingin masih saja terasa. Saya mencoba menyentuh dinding tenda di sebelah saya, terasa basah oleh embun. Saya lihat teman saya  Nando masih tertidur di samping saya.


Saya mencoba membangunkannya, dan tampaknya dia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak sama seperti saya. Udara dingin malam itu, benar-benar membuat saya ingin mengurungkan niat saya pergi ke puncak tengah malam nanti. Jangankan keluar dari tenda, keluar dari sleeping bag saja rasanya malas. Udara malam itu mungkin sudah berkisar 8-10 Derajat Celcius, tapi sudah sampai sejauh ini tidak sampai ke puncak, adalah bodoh sekali. Tujuan saya ke mahameru adalah untuk upacara 17-an di tanah tertinggi pulau jawa ini, dan kalo cuma karena udara dingin saja saya sudah menyerah itu berarti saya harus menunggu 1 tahun lagi untuk bisa ikut upacara 17-an, itupun jika tahun depan saya masih punya kesempatan. Saya berusaha mengingat-ingat pesan pak agus di pos tiga yang terus menyemangati kami untuk bisa sampai ke puncak, dan mengalahkan rasa dingin ini. 

Mahameru 17 Agustus 2010 (2)


Ranu Kumbolo

Tepat pukul 10.00 WIB kami tiba di Ranukumbolo. Sesampainya di Ranukumbolo sudah banyak pendaki yang mendirikan tenda, kami bertemu kembali dengan mas arif dan mas ipul di Ranukumbolo, kata mereka teman-teman yang lain sudah berangkat duluan menuju Arcopodo tadi pagi. Saya langsung membongkar carrier saya lagi untuk mengisi air secukupnya unutk bekal sampai Arcopodo dan mencuci peralatan masak tadi pagi. Pagi itu kami beristirahat sebentar di Ranukumbolo sampai makan siang, saya masih sempat mandi sebentar di pinggir danau.

“ Saya sampai sini saja ya mas..,saya udah gak kuat, tapi kalian harus sampai puncak, udah jauh-jauh dari Jakarta masa gak sampai puncak, kalo saya sih masih bisa kesini lagi kapan saja, titip salam buat teman-teman kalo nanti ketemu di atas” kata pak Agus.

Minggu, 31 Oktober 2010

Mahameru 17 Agustus 2010 (1)

Mahameru

“Suatu saat nanti saya akan berdiri di tanah tertinggi Pulau Jawa”
Impian itu sudah ada sejak lama, karena alasan itu pula saya ikut organisasi pecinta alam di kampus. Ditempa di alam terbuka, survive di didalam hutan dan belajar cara memanage perjalanan. Itu adalah modal yang sangat berharga untuk bisa bermain-main dengan alam.

Tahun ini saya memang sudah lama berencana merayakan 17 Agustusan di puncak Mahameru, tapi karena tahun 2010 ini 17 Agustus bertepatan dengan bulan puasa saya menjadi ragu-ragu,
“Masih adakah upacara 17-an di atas sana bulan puasa ini??”
Rencana itu sempat saya buang jauh-jauh, sebelum akhirnya secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman SMA saya, salah satu anggota pecinta alam IPB di dalam bus dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Puasa-puasa gini masih ada yang naik??” tanya saya
“Jangan jadikan puasa sebagai alasan tidak beraktifitas” begitu katanya
“Lagipula kaya gak tahu anak gunung aja, mana ada sih anak gunung yang puasa” kata dia lagi
Entah anak gunung mana yang dia maksud.hahaaaaa…..

Rabu, 04 Agustus 2010

Bromo


Beberapa kali singgah di kota Malang, tetapi belum pernah menginjakkan kaki ke Bromo membuat saya penasaran. Lagi-lagi karena masalah klasik, tidak ada teman untuk di ajak sharing biaya untuk backpacker ke bromo. Tapi kali ini secara kebetulan sebelum hari H ada teman kampus saya yang akan main ke Malang juga ngantar adeknya ujian di Brawijaya, langsung saja saya ajak untuk joint ke Bromo dan dia langsung setuju, setidaknya pergi berempat lebih baik daripada cuma pergi berdua. Akhirnya kami  janjian untuk ketemuan di kota Malang saja.

Kamis, 17 Juni 2010

Wajah Kotor Tidung

Ahh..tidung, ketika saya datang dengan ekspetasi tinggi berharap pulau yang sepi, pantai yang bersih
dan laut yang indah, tetapi semua berbanding terbalik ketika sampai di sana.

Mungkin hanya karena masalah waktu kedatangan saya saja yang tidak tepat.
Ketika long weekend dan sebagian warga Jakarta menghabiskan akhir pekan di sana, ketika cuaca sedang tidak bersahabat karena masih masuk ke dalam pergantian musim dan mungkin juga ketika laut sedang tidak bagus.

Mungkin saja aslinya tidung tidak seperti ini, masih ada tidung yang sepi, pantainya yang bersih dan lautnya yang indah.

Ketika warga Jakarta membutuhkan tempat untuk berekreasi yang masih asri dan alami, tidung bisa menjadi pilihan. Pasirnya yang masih putih, lautnya yang tenang dan lokasinya yang gampang dicapai tak heran akhir-akhir ini tidung seperti naik pamor.

Tapi seperti hal yang tidak bisa dihindari, objek wisata yang mulai ramai pasti akan meninggalkan kerusakan lingkungan jika pemerintah setempat tidak serius untuk membenahinya.

Saya jadi teringat cerita teman saya yang datang ke tidung dengan niat untuk berburu foto landscape, tapi berulang kali dia menggerutu karena tiap kali dia memotret selalu saja ada bungkus indomie yang terfoto.

Kalau saja saya boleh meminjam impian teman saya “satu wisatawan satu trash bag sampah” untuk membersihkan tidung dari sampah, pasti tidung bisa kembali bersih.

Semoga saja Tidung tidak menjadi Ancol berikutnya.

















*  suasana di muara angke saat berangkat menuju tidung, udah mirip kaya arus mudik lebaran.
















* pengunjung yang ke tidung pada waktu itu hampir mencapai 2000 orang, terbukti dari banyak sepeda yang di parkir.Hampir mirip dengan parkiran di mal-mal jakarta.










 * sampah-sampah yang mampir di tidung dari Jakarta, dari mulai kayu-kayu, sofa, kasur, ban dan apa aja yang bisa mengambang, mungkin dari sisa-sisa banjir di Jakarta.















* selamat datang di Pulau Bantar Gebang, di sini kami lebih mirip jadi pemulung dari pada turis.hahahaaa..















* bermain-main dengan sampah














* kalo tanpa sampah, pantai tidung seperti ini

Rabu, 02 Juni 2010

Pulau Tidung di Kepulauan Seribu


Kamis, 27 Mei 2010

“Hii all, jgn lupa bangun pagi besok.
Kalo bisa jam 6 udah di pelabuhan Muara Angke,
soalnya kapalnya berangkat pagi n bakal penuh krn long wikend.
See you there!”

Jam 8 pagi saya terima sms dari teman saya waktu di Karimun Jawa yang akan mengajak saya melakukan perjalanan ke pulau tidung di kepulauan seribu. Kebetulan besok jum’at adalah long weekend libur waisak. Saya pun kembali melanjutkan tidur masih ada waktu 22 jam sebelum berangkat pikir saya, tiba-tiba handphone saya berbunyi.

“yaaaa..halooo..”
“ndi…lu mau ikut ke anyer gak survey buat acara besok??” kata teman kampus saya di telepon
“kagak ahh.., gue besok mau ke pulau seribu”
“ya elah bentar ajaa..,sore juga udah pulang. Elo kan pernah tinggal di Cilegon, bantuin gue cari penginapan di sono, gue tunggu di kampus jam 11 okey..”

Kleeek..handphone langsung mati
Akhirnya terpaksa siang itu saya berangkat ke anyer untuk bantu cari penginapan buat acara besok.

Sesuai dugaan saya, hampir semua penginapan di anyer-carita sudah full booked untuk long weekend ini, akhirnya kami mendapat penginapan di daerah Labuan deket ke arah Tanjung Lesung. Jam setengah satu malam saya sampai di kostn abang saya di daerah kuningan, karena lebih dekat berangkat dari kuningan ke pelabuhan muara angke daripada saya harus berangkat dari Depok. Dan malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur takut kebablasan bangun lewat jam 6 pagi, mengingat saya biasa bangun jam 10 pagi.

Jum’at 28 Mei 2010

Pukul setengah enam pagi saya sudah bersiap-siap, perkiraan perjalanan dari kuningan ke Muara Angke adalah 45 menit dengan menggunakan taksi. Taksi yang kami tumpangi keluar pintu tol Pluit dan meluncur ke arah pelabuhan muara angke.

Tiba di muara angke ternyata sudah banyak orang-orang yang akan pergi ke pulau seribu, jalanan di sekitar muara angke menjadi macet, dan kapal-kapal sudah penuh sesak. Suasana sekitar pelabuhan mirip arus mudik lebaran, karena saking banyaknya orang-orang yang akan pergi ke pulau seribu. Dengar-dengar hari itu hampir 2000 orang yang akan menghabiskan long weekend di pulau seribu. Ternyata pulau tidung sudah mulai naik pamor. Suasana di dalam kapal seperti di dalam metromini, penuh sesak, mungkin satu kapal hanya dapat memuat sekitar 150 orang. ongkos dari muara angke ke pulau tidung adalah Rp 33.000 dan bayarnya benar-benar seperti di metro mini, ada kenek yang keliling narikin duit ongkosnya. Perjalanan sendiri memakan waktu 3 jam, untungnya ombak tidak begitu besar padahal cuaca masih masuk musim hujan. Saya agak memaklumi karena laut jawa relatif tenang tidak seperti pantai-pantai di selatan yang berbatasan langsung dengan samudera Indonesia dengan ombak yang besar, jadi saya tidak terlalu khawatir.